Senandung PenantianOoohhh Allah…
Ooohhhh Rabbiy…
Aku ini wanita biasa
Yang Engkau ciptakan dengan fitrahku sebagai manusia
Salahkah bila aku mencinta?
Ruang terasa amat sempit bagi hatiku
Sesak pun ada di dada…
Ingin sekali ku lepas benang merah jambu,
yang hingga kini belum mampu menyambungkan kami…
Namun jujur saja,
SAAT INI AKU TAK MAMPU !
Ingin sekali ku urai gumpalan nada cinta
yang kian hari kian membahana…
Namun jujur saja,
INI SEMAKIN MEMBUATKU MERANA !
Ya Rahman…
Arah mana yang harus ku tuju,
sementara langkah ku terseok…
Aku bak anak kecil yang menginginkan sebuah boneka,
namun tak dibelikan oleh ibunya,
lalu menangis tersedu di bawah bantal…
Ruas-ruas otot jantung ini pun turut memberontak
Sedangkan keadaan tak mungkin ku paksakan…
Di sini aku hanya sendiri, menikmati sedih seorang diri…
Ntah kapan kabar bahagia akan kudapati…
Jikalau boleh mengatakan LELAH, sudah lama ingin ku katakan…
Namun kini ku sadari,
begini lah rasanya ketika otak tak sejalan dengan hati…
Di pikiran berteriak ingin berlari, sementara hati inginkan tetap di sini…
Kursi taman ini sudah lapuk termakan masa,
menyaksikanku sejak awal duduk di sini,
tak henti memandangi ujung jalan,
berharap sosok itu segera muncul dari sana…
Kini, senandung penantian belum jua menjumpai tanda diam
Nada demi nada terus bergulir…
Tapi hatiku ini sejujurnya tengah dalam kelelahan…
Di sini ku masih menanti…
Hingga nanti,
engkau duduk di sisiku, di kursi taman yang lapuk ini…
Bersama merajut diri di sepanjang indahnya hari…
Ya Rahim…
Segera perdengarkan kabar bahagiaku.... Amiinn
Tidak ada komentar:
Posting Komentar