Malam ini (13 September 2014),
setelah hari ulang tahunku 30 Desember 2013 silam, “Hujanku” menelepon ku lagi.
Masih ku kenangkan ketika ia lantunkan lagu “Kasih Ibunda” buatku pada malam 21
November 2013 lalu. Ah, campur aduk rasanya. Ada bahagia, karena bisa
bercengkerama dan bercanda lagi dengan sahabat karibku itu, kendati kami telah
lama tak bersua. Ada juga haru sekaligus sedih, ia akan segera menikah. Akankah
sama nantinya, bercanda tertawa seperti saat ini laiknya hujan menghibur kaktus
yang tengah dilanda kekeringan? Apakah malam ini akan menjadi telepon terakhir
darinya, hanya untuk bercanda ria bersama? Ah, jadi melankolis aku dibuatnya.
Belum lagi efek menonton film di
laptop barusan. Memanggil semua wajah yang meluluhkan hatiku ke dalam ruang
bayang mata dan benakku. Menghadirkan mereka di tengah-tengah perasaan haru dan
ketakutan yang menghanyutkan kalbuku malam ini. Haru, karena Allah karuniakan
mereka dalam hidupku yang singkat ini. Lalu, ketakutan? Apa hubungannya? Ya,
takut akan perpisahan. Seberapa lama lagi sisa umur ayah? Seberapa lama lagi
sisa umur ibu? Seberapa lama lagi sisa umur adik-adikku? Seberapa lama lagi
sisa umur akhi-ku? Seberapa lama lagi sisa umur teman-temanku? Dan seberapa
lama lagi sisa umur semua orang yang hingga kini menemani dan menghuni hatiku?
Atau seberapa lama lagi aku diberi umur untuk membersamai mereka?
Seketika ku jambangi tempat tidur ayah, ibu dan adik-adik. Ku tatap lamat-lamat wajah mereka satu per satu. Takut sekali bilamana wajah-wajah itu seketika memucat dan membeku. Yaa Allah, ampuni hamba atas perasaan ini. Hamba tak bermaksud mengingkari dan tak mengimani ketentuan-Mu, hamba hanya berharap akan tegar dan siap bilamana saat itu tiba.
Seketika ku jambangi tempat tidur ayah, ibu dan adik-adik. Ku tatap lamat-lamat wajah mereka satu per satu. Takut sekali bilamana wajah-wajah itu seketika memucat dan membeku. Yaa Allah, ampuni hamba atas perasaan ini. Hamba tak bermaksud mengingkari dan tak mengimani ketentuan-Mu, hamba hanya berharap akan tegar dan siap bilamana saat itu tiba.
Aku mencintai mereka... Sangat!
Namun sayang, hanya cinta yang
tak terbahasakan dalam lisan..
Tak ku ungkap lewat kata, tak
juga ku buktikan dengan hadiah-hadiah..
Hanya cinta yang terdekap erat
dalam kalbuku terdalam..
Hanya cinta yang ku lakoni dan ku
maknai dengan caraku..
Lewat mata yang menangis tatkala
menyesal telah melukai mereka,
Lewat bibir yang dalam hening
memanjatkan do’a untuk kebaikan mereka,
Lewat bahasa tubuh yang
menyejukkan keseharian mereka,
Dan lewat cita-cita hendak
wujudkan kebahagiaan mereka...
Untuk semua yang terkasih,
UHIBBUKUM FILLAH...
(Do’a Rabitha dalam hati)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar